3 Oktober 2022 Hari Biasa Gal. 1:6-12; Mzm. 111:1-2,7-8,9,10c; Luk. 10:25-37. Warna Liturgi Hijau
Saudara Terkasih,
Dalam Injil hari ini, Yesus menggunakan perumpamaan tentang Orang Samaria yang baik [ay 30-37] untuk menjawab pertanyaan para Ahli Hukum Taurat tentang hidup kekal [ay 25-30]. Orang Samaria menjadi perwujudan dari “missionary of compassion”. Kata compassion [Latin: cum patire: menderita bersama] dapat berarti sikap perhatian yang didasarkan pada kasih dan simpati terhadap penderitaan sesama. Maka, Yesus menempatkan Orang Samaria sebagai seorang misionaris yang mewartakan kasih Tuhan, bukan hanya dari kata-kata, melainkan tindakan yang nyata, mau hadir dan merasakan penderitaan sesama.
Perumpamaan tentang Orang Samaria yang baik menjadi jawaban bagi dua pertanyaan para Ahli Taurat yang berkaitan dengan “memperoleh hidup yang kekal” dan “siapakah sesamaku manusia” [ay.29]. “Orang Samaria” menjadi tokoh sentral bagaimana kita bersikap untuk dapat mewarisi Kerajaan Allah [Hidup Kekal]. Paus Fransiskus dalam Konstitusi Apostolik Praedicate Evangelium [2022] menempatkan figur “orang Samaria yang baik hati” roh penggerak semua karya pastoral Gereja, yang dimulai dari Kuria Roma [PE 11].
“Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.”
Luk 10:33
Dengan Spiritualitas Orang Samaria yang baik hati, seluruh pastoral Gereja hendaknya didasarkan pada cinta Allah senantiasa mencintai kita, manusia yang penuh dengan dosa. Karena itu, untuk mewarisi hidup yang kekal, kita hendaknya dipenuhi dengan semangat Orang Samaria yang baik hati dan menjadi misionaris-misionaris yang berbelas kasih bagi sesama kita. Tugas misi pribadi kita masing-masing, hendaknya senantiasa menyerupai Kristus, yaitu untuk melayani sesama saudara-saudari, khususnya mereka yang sangat membutuhkan. Dan karenanya, Kristus senantiasa hidup dalam diri semua manusia, khususnya mereka yang menderita [lih Mat 25:40].
Salam Misioner
RDHJ