4 Oktober 2022 Peringatan Wajib St. Fransiskus - Assisi Gal. 1:13-24; Mzm. 139:1-3,13-14ab,14c-15; Luk. 10:38-42; Warna Liturgi Putih
Saudara Terkasih,
Yesus, dalam Injil hari ini, berjumpa dengan tokoh-tokoh yang melambangkan kondisi misi saat ini, Maria dan Marta. Gambaran perjumpaan mereka dengan Yesus menumbuhkan spiritualitas misioner yang mendalam bagi para pelaku tugas perutusan. Maria “duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya” [Luk 10:39]. Tindakan ini menggambarkan pentingnya Doa sebagai penyokong utama karya misioner. Lebih dari seratus tahun yang lalu, Paus Benediktus XV dalam Surat Apostolik Maximum Illud menekankan hal pertama yang bisa kita lakukan untuk mendukung karya misi adalah “doa memohon rahmat Allah” [MI 32]. Berdoa dengan tekun dan rendah hati adalah satu-satunya cara memohon rahmat tersebut. Tindakan Maria menjadi simbol doa yang sempurnya sebagai seorang murid Kristus. Dengan tegas Yesus bersabda: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” [Luk 8:21].
Tokoh lain ialah Marta, yang digambarkan dengan sosok yang “sibuk sekali melayani” [Luk 10:40]. Tak jarang sosok ini melambangkan satu aspek lain dari tugas perutusan yaitu “karya”. Seorang misionaris, ialah mereka yang rela meninggalkan segala sesuatu, untuk pergi dan mewartakan Kristus lewat kesaksian dan karya mereka sampai ke ujung dunia. Tugas, karya dan kesaksian menjadi aspek penting dalam sebuah aktivitas misioner. Jika berdoa digambarkan dengan “duduk, diam dan mendengarkan” maka “Bekerja” digambarkan dengan suatu “tindakan bergerak keluar”. Yesus sendiri bersabda bahwa “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus” [Luk 4:43]
Dalam perwujudan karya misioner, kita dihadapkan dengan fokus pilihan: “berdoa atau bekerja”. Pepatah Latin yang sangat terkenal mengatakan “ora et labora” yang berarti “[Hai kamu] berdoalah dan bekerjalah” menandakan dua hal ini tidak dapat dipisahkan. Bermisi berarti berdoa sambil mewujudkan iman dalam tugas, karya dan kesaksian kita. Yang terpenting adalah setia pada pilihan itu. Marta menunjukkan kecemasan dan ketakutan serta ketidaksetiaannya atas pilihan untuk melayani. Sedangkan Maria setia pada pilihannya untuk berdoa. Yesus menegaskannya dengan mengatakan
“porro unum est necessarium [hanya satu yang perlu], Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya”
Luk 10:42.
Sebagai misionaris, marilah kita setia pada pilihan kita masing-masing seraya mengingat bahwa “karya para misionaris akan hampa dan sia-sia jika tidak disuburkan oleh rahmat ilahi” [Benediktus XV, Maximum Illud, 32]
Salam Misioner
RDHJ