5 Oktober 2022 Peringatan fakultatif St. Faustina Kowalska Gal. 2:1-2,7-14; Mzm. 117:1,2; Luk. 11:1-4.
Saudara Terkasih,
Injil hari ini menggambarkan bagaimana murid-murid Yesus menunjukkan keinginan mereka untuk memiliki iman yang bertumbuh dan berbuah. Setelah permohonan “tambahkanlah iman kami”, hari ini seorang murid kembali memohon: “Tuhan, ajarlah kami berdoa…” [Luk 11:1]. Yesus mengajarkan para murid untuk membiasakan diri dengan hal-hal yang menumbuhkan kedisiplinan spiritual. Dalam hal ini, Yesus menekankan bahwa berdoa secara pribadi menjadi salah satu bagian penting dalam tugas perutusan-Nya. Selain doa-doa liturgi, dalam berbagai kesempatan, Yesus pun berdoa secara pribadi: [Luk 11:1; 5:16; 6:12; 9:18; Mat14:23; Mrk 1:35].
Tak heran, para murid-Nya memohon “ajarlah kami berdoa.” Secara sederhana, berdoa berarti berelasi, berkomunikasi dengan Tuhan, Allah Bapa yang Maharahim. Sebagai manusia, terkadang kita justru tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan Tuhan. Sebagai seorang Katolik, terkadang kita pun malu untuk berdoa di hadapan teman, rekan-rekan kerja atau bahkan keluarga kita sendiri. Pertanyaannya, “apakah kita malu atau tidak tahu cara berkomunikasi dengan Allah yang sungguh mengasihi kita?” Doa Bapa Kami yang kita dengar dalam Injil hari ini merupakan doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri. Bagi Gereja, doa ini menjadi bentuk dari doa lisan yang hendaknya menjadi dasar hidup kristiani.
Salah satu penyebab utama kita taut berdoa pribadi ialah karena keegoisan spiritualitas kita masing-masing. Berdoa menjadi sarana pemaksaan kehendak subjektif kita masing-masing. Alhasil, doa justru membuat kita marah dan kecewa kepada Tuhan karena merasa doa kita tidak didengar atau tidak dikabulkan. Yesus menekankan bahwa aspek utama dalam doa ialah agar kita membuka diri kepada kehendak Bapa: agar Allah meraja di hati kita. Doa hendaknya didasarkan pada kerinduan akan Kerajaan Allah: “Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu” [Luk11:2]. Hal ini sejalan dengan yang disabdakan-Nya: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” [Mat 6:33].
Sebagai misionaris yang berbelas kasih, Marilah kita meneladani Santa Faustina Kowalska, dalam devosi Kerahiman Ilah yang mengajarkan bahwa Doa hendaknya berisi pujian dan syukur kepada Allah. Ia berdoa:
“O Yesus, Allah yang kekal, aku mengucap syukur kepada-Mu atas segala rahmat dan berkat melimpah yang tak terbilang. Biarlah setiap detak jantungku merupakan suatu madah syukur baru bagi-Mu, ya Tuhan. Biarlah setiap tetes darahku mengalir bagi-Mu, ya Allah. Jiwaku adalah suatu madah sembah sujud bagi kerahiman-Mu. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan, hanya Engkau saja” (1794).
Salam Misioner
RDHJ