“Tambahkanlah Iman Kami!”

“Tambahkanlah Iman Kami!”

2 Oktober 2022
Hari Minggu 
Biasa XXVII
Hab. 1:2-3; 2:2-4; 
Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; 
2Tim. 1:6-8,13-14; 
Luk. 17:5-10. 
Warna Liturgi Hijau

Saudara Terkasih, 

Hari ini, Injil menampilkan dialog antara Yesus dan Para Rasul tentang Iman. Kata ‘rasul’ [apostle] sendiri berarti ‘yang diutus’. Para rasul adalah mereka yang dipanggil secara khusus yang kemudian siap untuk diutus mewartakan Kabar Baik, yaitu Yesus yang bangkit! Karena itu, para rasul dituntut untuk memiliki iman yang kuat akan Yesus, Guru mereka. Dalam Injil, Para Rasul adalah mereka adalah saksi-saksi istimewa akan ajaran dan mukjizat Yesus [Lih Luk 18:31]. Di lain pihak, Para Rasul, layaknya manusia biasa seperti kita: ragu-ragu dan tidak percaya [Luk 24:11, 38-39]; Yesus bahkan menyebut mereka “bodoh, lambat hati dan tidak percaya” [Luk 24:25]. Hal inilah yang akhirnya mendorong para Rasul untuk memohon kepada Yesus: “Tambahkanlah iman kami” [Luk 17:5]. Yesus menyadari betapa lemah iman Para Rasul [Mat 17:20], maka Ia berkata:

Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu

[Luk 17:6]

Menjadi misionaris di masa kini dituntut agar kita memiliki iman yang kuat sebagai dasar pewartaan akan Yesus yang sengsara, wafat, namun bangkit dan menyelamatkan kita. Iman seperti itu menguatkan diri kita sendiri dan juga orang lain untuk melampaui keterbatasan akal budi kita. Yesus memuji iman seorang perwira yang memohon kesembuhan prajuritnya. Ia bersabda: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel” [Mat 8:11]. 

Apakah iman yang kuat sudah cukup untuk menggantikan iman yang lemah?

rdhj

Di masa pandemi dan post-pandemi ini, Paus Fransiskus menekankan pentingnya misi berbelaskasih [mission of compassion] lewat perjumpaan, perhatian dan pewartaan [Fratelli Tutti, 36]. Karena itu, menjadi misionaris berbelas kasih di zaman now, tidak hanya membutuhkan iman yang kuat melainkan iman yang berbuah. 

Permintaan Para Rasul “Tambahkanlah iman kami” bukan hanya menandakan iman yang lemah, tetapi juga menandakan iman yang berbuah. Iman yang berbuah mengubah keraguan manusiawi kita. Seruan “Tambahkanlah iman kami” dapat berarti “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” [Mrk 9:24], yaitu dengan menyadari kelemahan kita dan memohon campur tangan Tuhan dalam mengubah keraguan itu menjadi Iman yang berbuah dalam setiap karya misi pewartaan Kabar Sukacita. 

Salam Misioner

RDHJ