Menjadi Kaya berarti Kenosis [Pengosongan Diri]

Menjadi Kaya berarti Kenosis [Pengosongan Diri]

Hari Minggu 
Biasa XXVI

Bacaan Pertama	: Am 6:1a,4-7; 
Mazmur		: Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; 
Bacaan Kedua		: 1Tim. 6:11-16; 
Bacaan Injil		: Luk. 16:19-31. 

“Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.

[Luk 16:31]

Saudara Terkasih, 

Hari ini, Yesus melanjutkan pengajarannya berkaitan dengan hal-hal dasar seseorang dapat memasuki Kerajaan Surga, khususnya berkaitan dengan kekayaan dan kemiskinan serta tokoh-tokoh yang melambangkannya. Kekayaan itu dilambangkan dengan seseorang [anonim, tanpa nama] yang “berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan” [Luk 16:19]. Setelah meninggal, “ia menderita sengsara di alam maut” [Luk 16:23]. Di lain pihak, kemiskinan diwakilkan oleh tokoh Lazarus, “badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu” [Luk 16:20]. Dan setelah meninggal “dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham” [Luk 16: 22].

Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan, kekayaan membuat manusia menjadi bebal dan buta hati, menutup diri terhadap karya Tuhan, melalui kesaksian para nabi dan pewartaan Kabar Suka Cita: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” [Luk 16:31]. Dengan membiarkan identitas orang kaya itu tetal anonim, Injil hari ini menegaskan bahwa, karakter “orang kaya” yang hanya memikirkan kemewahan dan kebahagiaan orang lain, dan menutup diri terhadap kesaksian dan pewartaan Kabar Suka Cita itu dapat menjadi karakter atau sifat semua umat manusia.

Dalam Katekesenya tentang Dekalog [Sepuluh Perintah Allah] yang ke-7, “Jangan Mencuri” [17 Nov 2018], Paus Fransiskus menekankan bahwa, saat ini, kekayaan itu hanya dimiliki oleh sekelompok orang tertentu [minoritas] di lain pihak, kemiskinan yang menyebabkan penderitaan menjadi karakter banyak orang [mayoritas]. Karena itu, Paus menekankan pentingnya solidaritas antara yang kaya dan miskin. Kekayaan, menurut Paus Fransiskus, dapat menjadi baik jika memiliki dimensi sosial. Kecenderungan kita adalah bertindak sebagai “pemilik rahmat kekayaan” [Paus Fransiskus]. Bukan sebagai pemilik absolut, Paus menekankan bahwa kita hendaknya menjadi pengelola kekayaan [Rahmat] Allah yang diberikan kepada kita. Sebagai anak-anak-Nya, kita [baik orang kaya maupun yang miskin] memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kebaikan bersama. 

Marilah kita belajar dari Yesus “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” [Flp 2:6-7].

Salam Misioner

RDHJ