Hari Minggu Biasa XXV Bacaan I Am. 8:4-7; Mazmur Mzm. 113:1-2,4-6,7-8; Bacaan II 1Tim. 2:1-8; Bacaan Injil Luk. 16:1-13
Saudara terkasih,
Hari ini kita mendengarkan perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur. Dan di dalam ketidakjujurannya itu, dia kemudian bertindak dengan cerdik untuk ‘mencari aman’. Dalam hal ini, Yesus menegaskan pentingnya kesetiaan dalam mengikuti Tuhan dengan berkata “Non potestis Deo servire er mammonae” [Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon] Luk 16:13. Ketidakjujuran mengakibatkan kita bertindak mencari aman, cerdik, namun dengan demikian, tindakan tersebut membuat kita mendua: menyembah Tuhan namun sekaligus menyembah mamon.
Mamon adalah sebuah kata dari bahasa Aram yang kemudian disadur ke dalam bahasa Yunani dalam Perjanjian Baru, yang berarti ‘kekayaan, uang, kaya [kata sifat] atau bahkan harta benda.” Uniknya, kata ini hanya muncul 4 kali dalam Perjanjian Baru, semuanya diucapkan oleh Yesus [Khotbah di Bukit (Mat 6:24), dan tiga lainnya di dalam perumpaan tentang bendahara yang tidak jujur, Luk 16:9, 11, 13]. Dalam Bahasa Inggris, Mamon diartikan secara sederhana sebagai “uang”.
Pada dasarnya, Mamon, yang adalah kekayaan yang dilambangkan dengan uang itu bukanlah sesuatu hal terlarang. Perjanjian Lama mencatat bahwa uang [kekayaan] adalah bagian dari rahmat Allah,
“Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini”
[Ul 8:18].
Namun di saat yang bersamaan, Mamon juga dapat menjadi hal yang paling berbahaya, khususnya di dalam hubungan kita dengan Tuhan. Ketika kita menjadi hamba uang [Mat 6:24]; “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang” [1Tim 6:10], atau jika kita senantiasa menaruh harapan kita akan uang dan kekayaan [lih 1Tim 6:17].
Kesetiaan kepada Tuhan dapat membantu kita untuk bertindak dengan bijak terhadap uang dan kekayaan. Kita semakin menyadari bahwa uang dan kekayaan berasal dari Allah [Mzm 24:1-2; 50:12]; “TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga” [1Sam 2:7]. Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi cerdik, namun membuka diri atas rahmat-Nya. Karena Tuhan memampukan kita untuk meraih kekayaan itu dengan cara yang benar [Ul 8:17-18]. Jika kita setia pada perkara-perkara kecil yaitu kesetiaan kepada Tuhan, niscaya kita akan memperoleh kekayaan spiritual seperti yang dinubuatkan Nabi Yesaya: “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!” [Yes 55:1]
Salam Misioner
RDHJ