Quaresima | Masa Tobat Hari Minggu II/C Bacaan Pertama Kej. 15:5-12,17-18; Mazmur Mzm. 27:1,7-8,9abc,13-14; Bacaan Kedus. Flp. 3:17-4:1 Bacaan Injil Luk. 9:28b-36.
Saudara Terkasih,
Salah satu footages yang sangat familiar dalam menapaki perjalanan pertobatan kita menuju sengsara, wafat dan Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus adalah kisah Transfigurasi. Injil Lukas yang kita dengar pada Hari Minggu II Masa Tobat mengisahkan peristiwa itu dengan cara sendiri. Kisah trasfigurasi itu sendiri dapat kita temukan di semua Injil Sinoptik [Luk 9:28b-36, Mat 17:1-9; Mrk 9:2-10].
Dalam Injil Lukas, kita diingatkan bahwa transfigurasi hendaknya tidak hanya dimengerti sebagai perubahan fisik belaka: “Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan” [Luk 9:29]. Lebih dari itu, transfigurasi adalah suatu peristiwa pewahyuaan Kemualiaan Tuhan Kita Yesus Kristus sebalum sengsara dan wafat-Nya di Kayu Salib. Dalam peristiwa inilah, para Murid Yesus menyaksikan Yesus dalam kemuliaan-Nya. Para Murid pun semakin yakin bahwa Yesus adalah Putera Allah.
Peristiwa ini menjadi sangat penting bagi pertumbuhan iman kita, khususnya dalam mempersiapkan diri di masa pertobatan ini. Pertama, Yesus sendirilah yang mempersiapkannya: “Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu, Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa” [Luk 9:28]. Yesus membawa para murid-Nya untuk berdoa, bukan untuk menonton sebuah pertunjukan spektakuler. Kedua, transfigurasi sebagai penampakan kemuliaan Tuhan lewat perubahan wajah-Nya dan bercahaya itu dilihat oleh para murid [Luk 9:29; Mat 17:2]. Ketiga, para murid adalah saksi-saksi transfigurasi [Mat 17:6].
Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata:
“Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.
Luk 9:35
Sekali lagi, transfigurasi lebih dari sekadar perubahan fisik Yesus. Jika kita memusarkan diri pada hal-hal spektakuler, maka respon kita pun akan sama seperti para murid: euforia, takut dan tidak mengerti. Petrus meminta untuk mendirikan kemah agar dapat menikmati euforia transfigurasi lebih lama [lih Luk 9:33; Mat 17:4]. Transfigurasi mengakibatkan para murid ketakutan [Luk 9:34; Mat 17:6-7] dan bertanya-tanya serta kebingungan [Mat 17:10].
Yesus mengajak para murid untuk menyepi dan berdoa, membangun relasi intim dengan Allah Bapa. Perjumpaan dengan Tuhan berarti membiarkan Tuhan berbicara bagi kita, umat-Nya. Perjumpaan dengan Tuhan berarti mendengarkan Allah bersabda dalam hati kita masing-masing. Peristiwa transfigurasi menegaskan pentingnya membuka mata, hati dan telinga kita kepada Tuhan yang bersabda. Masa tobat empat puluh hari hendaknya membantu kita untuk menyadari kemuliaan Tuhan dalam kehidupan masing-masing. Namun, kita dituntut untuk tidak hanya bereuforia saja, tetapi senantiasa mendengarkan Allah yang bersabda dalam diri kira.
Maka, di masa tobat ini, Marilah kita senantiasa berusaha untuk mendengarkan Tuhan yang bersabda: “Inilah Anak-Ku yang kupili, dengarkanlah Dia!”
Salam Misioner
RDHJ