Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!

Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!

HARI MINGGU 
ADVEN II
Yes. 11:1-10; Mzm. 72:1-2,7-8,12-13,17; Rm. 15:4-9; Mat. 3:1-12. 
BcO Yes. 14:1-21
Warna Liturgi Ungu

Saudara terkasih

Ajakan Yohanes pembaptis yang kita dengar pada Injil Matius [Bacaan Hari Minggu Adven II] tentang pertobatan mengajak kita untuk berefleksi atas makna pertobatan dalam diri kita. Sebagai seorang katolik, kita mengenal Sakramen Tobat sebagai salah satu tanda dan sarana keselamatan. Melalui sakramen tersebut, kita memurnikan diri kita yang berdosa agar mampu kembali bersatu dengan Tuhan. Seruan Yohanes Pembaptis “bertobatlah” [Mat 3:2] sangatlah berkaitan dengan perubahan pola pikir dan tingkah laku kita sebagai pengikut Kristus: perubahan yang mendalam, bukan sekadar perubahan biasa. Seruan pertobatan selalu berkaitan dengan manusia berdosa. Yohanes Pembaptis tidak menyerukan pertobatan dan perubahan cara pikir biasa, tetapi petram-tama menempatkan “pertobatan” sebagai jalan keluar bagi seorang pendosa.

Karena itu, seruan ‘pertobatan’ Yohanes pembaptis menyadarkan bahwa kita adalah orang-orang berdosa, rapuh, lemah, untuk berani keluar dari kelemahan dan situasi kedosaan kita, mencari dan menemukan Tuhan maharahim yang menyembuhkan, menguatkan dan tertutama mengampuni dosa dan kelemahan manusiawi kita. Seruan pertobatan bukan lagi soal perubahan pemikiran atau tingkah laku duniawi, pertobatan lebih pada “perubahan hati” [metanoia]. Perubahan hati menjadi syarat utama untuk menerima Rahmat Ilahi, yaitu Kerajaan Surga. Karena itu, dengan lantang, Yohanes Pembaptis berseru: “bertobatlah, Kerajaan Sorga sudah dekat” [Mat 3:2].

Seruan pertobatan Yohanes Pembaptis tidak hanya berhenti pada perubahan pola pikir, perubahan hati [metanoia], perubahan hidup kristiani, namun bermakna partisipatif dalam karya Allah. Pertobatan bukan hanya sikap “cari aman” agar dapat memperoleh rahmat ilahi, masuk surga dll. Pertobatan berarti perubahan total hidup seseorang [pikiran, hati dan perilaku] yang kemudian terbuka pada tugas pewartaan, menjadi anak-anak Allah yang mempersiapkan diri bagi kedatangan Tuhan. Yohanes Pembaptis berseru: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya” [Mat 3:3]. Dengan bertobat, kita mengambil bagian dałam karya keselamatan Tuhan.

Masa Adven mengajak kita untuk senantiasa berakar pada Kristus lewat pertobatan sejati. Paus Fransiskus [3 Desember 2022] mengajak kita untuk menghidupi masa adven ini dengan menghayati ‘kesederhaan’ Allah yang nampak dalam palungan [kandang natal]. Ketika menerima hadiah sebuah Pohon Natal dan dua palungan [presepe] di Aula Paolo VI, Vatikan, Paus Fransiskus berpesan: “

“Hanya mereka yang berakar di tanah yang baik yang tetap teguh, tumbuh, “dewasa,” menahan angin yang menggoyahkan mereka dan menjadi titik acuan bagi mereka yang melihatnya. Tetapi, saudara-saudaraku yang terkasih, tanpa akar, semua ini tidak akan terjadi: tanpa fondasi yang kokoh, seseorang akan tetap goyah. Penting untuk menjaga akar, dalam kehidupan seperti dalam iman. Dalam hal ini, Rasul Paulus mengingatkan kita tentang fondasi yang menjadi akar kehidupan kita agar tetap teguh: ia berkata untuk tetap “berakar di dalam Yesus Kristus.” Inilah yang diingatkan oleh pohon Natal. Berakar di dalam Yesus Kristus”.

Paus Fransiskus, Audiensi 3 Desember 2022, Aula Paolo VI.

Salam Misioner

RDHJ