Hari Minggu Biasa IV Zef. 2:3; 3:12-13; Mzm. 146:1,7,8-9a,9bc-10; 1Kor. 1:26-31; Mat. 5:1-12a.
Saudara terkasih,
Pernahkan kita merasa lelah mengikuti Kristus? Atau putus asa karena merasa dengan mengikuti Kristus hidup kita justru penuh dengan salib? Mungkin juga kita lelah bersaksi tentang kasih Allah dalam kehidupan kita? Atau bahkan kita merasa pewartaan dan tugas misi kita sia-sia dan tidak berbuah? Pertanyaan-pertanyaan di atas membantu merenungkan identitas kristiani kita, identitas kita sebagai orang-orang yang dibaptis dan mengikuti Kristus sebagai Tuhan dan penyelamat kita. Hal ini sekaligus menjadi kesempatan kita untuk merefleksikan dasar utama kita mengikuti Kristus.
Dalam Injil hari ini, kita mendengarkan “Yesus yang berbicara dan mengajar para murid-Nya dan orang banyak” [Mat 5:2]. Pengajaran ini dikenal dengan istilah pengajaran tentang Sabda Bahagia [The Beatitudes] . Disebut Sabda Bahagia karena diawali dengan seruan “Berbahagialah”. Dalam Bahasa Yunani, kata berbahagia itu berasal dari kata μακαριος [Makarios yang berarti terberkati, yang berbahagia, dan yang beruntung]. Yesus mengajak para muridnya untuk senantiasa berbahagia karena mereka adalah orang-orang pilihan Allah yang terberkati. Kepada mara murid-Nya, Yesus berseru: “terberkatilah – berbahagialah” [tujuh karakter atau cirikhas]
Bagi Yesus, keputusan untuk menjadi pengikut-Nya dapat menyebabkan kita menjadi: “miskin di hadapan Allah, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran”. Tetapi, kita juga dituntut untuk menjadi orang yang “murah hati, suci hati, dan membawa damai”.
Lih. Mat 5:3-9
Ketujuh seruan “berbahagialah” kepada para murid-Nya yang kemudian menjadi ciri khas para pengikut Yesus menjadi dasar bagi para murid-Nya untuk menjadi sempurna dalam mengikuti Yesus. Yesus kemudian bersabda [Sabda yang ke delapan]: “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” [Mat 5:10].
Menjadi pengikut Kristus bukanlah soal memperoleh keuntungan atau kerugian, namun Yesus menjanjiakan “Kebahagiaaan Sejati” bari para muridnya. Dan kebahagian sejati yang dijanjikan Yesus itu dapat kita peroleh jika kita sungguh-sungguh menghayati seutuhnya ketujuh karakter dasar kristiani yang diserukan oleh Yesus. Jika kita tidak takut menjadi miskin di hadapan Allah, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hati, dan membawa damai, maka kita pun tidak takut untuk dianiaya karena kebenaran. Yesus menyebut para muridnya makarios [yang berbahagia – yang terberkati] karena merekalah yang “empunya Kerajaan Sorga”.
Marilah kita menjadi pengikut Yesus yang “berbahagia dan terberkati”.
Salam Misioner