Hari Minggu Paskah IV [A] – Hari Minggu Doa untuk Panggilan Sedunia
Saudara terkasih, hari ini adalah Hari Doa untuk Panggilan Sedunia. Kita semua diajak untuk merenungkan panggilan kita masing-masing. Baik sebagai umat beriman (awam) maupun sebagai Religius (Tarekat Hidup Bakti dan Clerus). Hari ini kita berdoa mereka yang telah menyadari dan menemukan panggilan hidup masing-masing. Semoga mereka dapat mensyukuri dan menghayati jalan panggilan tersebut sebagai suatu sarana untuk menyucikan diri dan menghadirkan Kristus dalam diri mereka. Di lain pihak, kita juga berdoa bagi mereka yang sampai saat ini masih dalam kebimbangan. Semoga Tuhan pun memberikan pencerahan dan peneguhan bagi mereka agar dapat menemukan panggilan hidup yang tepat.
Untuk itu, pada minggu ini, saya ingin mengajak Bapak/Ibu/Saudara-i terkasih untuk merenungkan beberapa hal penting yang ditekankan oleh Paus Fransiskus dalam Pesannya di Hari Doa untuk Panggilan sedunia ini. Bapa Suci menekankan pentingnya empat hal ini: rasa syukur, peneguhan, lelah dan pujian.
Rasa syukur adalah kunci utama dalam panggilan. Ucapan syukur merupakan tanggapan atas panggilan. Panggilan yang juru mudinya adalah Tuhan sendiri. “’Panggilan, lebih dari sekadar pilihan kita sendiri, adalah sebuah tanggapan akan panggilan Tuhan yang tidak pantas kita dapatkan’ (Letter to Priests, 4 Agustus 2019). Kita akan berhasil menemukan dan menerima panggilan kita saat kita membuka hati kita dalam rasa syukur dan melihat jalan Tuhan dalam hidup kita” [Paus Fransiskus].
Dalam menyadari panggilan itu, kita terkadang mengalami berbagai rintangan bahkan menggoyahkan iman kita. Sabda Tuhan kepada para murid yang ketakutan menjadi suatu peneguhan Iman bagi kita juga. “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mt14:27). Paus Fransiskus menekankan aspek peneguhan yang datang dari Tuhan sendiri. Panggilan bukanlah suatu hal yang sederhana, kita butuh keberanian untuk menjalankannya. Dan Tuhan senantiasa menyertai kita dan meneguhkan pilihan-pilihan hidup kita.
Dinamika perjalanan panggilan juga diliputi dengan rasa sakit. Secara khusus, Bapa Suci menyebutnya dengan rasa lelah. Menanggapi panggilan Tuhan berarti membiarkan diri kita dimampukan untuk melakukan hal-hal yang besar. Tuhan ingin agar kita pun sama seperti Petrus untuk mampu “berjalan di atas air”: memusatkan diri kita dalam Pewartaan Injil secara kongkret dalam kehidupan kita masing-masing. “Namun, seperti Santo Petrus, keinginan dan antusiasme kita hadir berdampingan dengan kelemahan dan ketakutan kita” [Paus Fransiskus]. Paus Fransiskus berpesan, “Tatkala rasa lelah atau rasa takut mulai menenggelamkan kita, Yesus mengulurkan tangan-Nya kepada kita. Ia memberikan kita antusiasme yang kita butuhkan untuk menghidupi panggilan kita dengan sukacita dan semangat”.
Dalam menjalani panggilan, hidup kita juga hendaknya terbuka bagi pujian. Ini adalah kata kunci terakhir dari panggilan kita. Kita diundang untuk mengolah sikap batin dari Perawan Maria Yang Terpuji. Bersyukur karena Tuhan berkenan memandangnya, tetap setia di tengah ketakutan dan keresahan, ia menerima panggilannya dengan berani dan menjadikan hidupnya sebuah lagu pujian abadi bagi Tuhan, “Magnificat anima mea Domino”.
Tuhan Memberkati!
… Hening Sejenak …