Hari Minggu: Hari Tuhan – Perayaan Kebangkitan Tuhan Sepanjang Tahun

Hari Minggu: Hari Tuhan – Perayaan Kebangkitan Tuhan Sepanjang Tahun

Hari Minggu Paskah III [A]

         Saudara terkasih, ada keluarga kecil yang terdiri dari Ayah, Ibu dan dua orang putra. Sang Ayah berasal dari keluarga yang tidak berlatar belakang Katolik. Berbeda dengan Ibu, berasal dari keluarga yang begitu menghayati iman katolik. Tak heran, dalam hidup berkeluarga, Ibu tersebut selalu menjadi motor penggerak bagi suami dan anak-anaknya. Berdoa keluarga, berdevosi kepada Bunda Maria, dan terutama mengambil bagian dalam Perayaan Ekaristi mingguan. Sang Ibu selalu menekankan: “Hari Minggu adalah hari Tuhan. Hari Minggu bukan hari libur biasa, apalagi untuk bermalas-malasan”. Karena itu keluarga kecil itu selalu berusaha untuk menjalankan salah satu Perintah Gereja untuk menguduskan Hari Tuhan dengan berdoa. 

         Injil hari ini menceritakan kegundahan hati, kekecewaan bahkan keputus-asaan murid-murid setelah kematian Tuhan. Injil Lukas menggambarkan secara ekstrem kekecewaan tersebut. Para murid kembali ke Emaus. Kembali untuk melanjutkan hidup mereka, bukan sebagai murid Kristus, melainkan orang yang lemah, mudah menyerah, bahkan Yesus menyebut mereka sebagai “orang bodoh, lamban hati dan tidak beriman” (Luk 24:25).

         Di awal perikop ini (Luk 24:1), Penginjil Lukas mengingatkan kita bertapa pentingnya Hari Minggu sebagai Hari Tuhan. Hari “yang pertama” dalam satu pekan; Hari Kebangkitan Tuhan. Dan di hari yang begitu agung itu, Tuhan ingin agar kita semua menyadari kehadiran-Nya. Pada masa ini, hari itulah yang kita kenal dengan hari Minggu. Hari ketika kita diajak untuk mengenang Kebangkitan Kristus. Kita merayakan kemenangan Kristus atas dosa dan maut (Santo Yohanes Paulus II, Dies Domini, 1998).Dalam pemecahan roti, para murid akhirnya mengenal dan menyadari kehadiran Tuhan. 

         Kisah keluarga kecil di atas mungkin saja tidak disadari oleh kita. Pentingnya menyiapkan ruang bagi Kristus dalam hati dan keluarga kita masing-masing. Sang ibu tentu saja tidak mendalami ilmu teologi, ilmu tafsir ataupun liturgi, namun imannya untuk senantiasa memberikan ruang bagi Tuhan merupakan bentuk kesaksian iman yang mendalam. Terkadang kita menutup mata, telinga dan hati kita akan kehadiran dan sapaan Tuhan. Namun, Tuhan akan senantiasa datang dan menyapa. 

         Marilah kita mengambil kesempatan di masa pandemi ini untuk membangun kembali kebiasaan untuk berkumpul dan berdoa di Hari Minggu. Karena di hari itulah Tuhan bangkit dan hidup di tengah-tengah kita. Apakah Saudara-saudari juga merasakan kehadiran Tuhan di Hari Minggu ini?

… Hening Sejenak …