A Personal Intimacy with God

A Personal Intimacy with God

Quaresima | Masa Tobat 
Minggu I / C 
Bacaan I Ul. 26:4-10; 
Mzm. 91:1-2,10-11,12-13,14-15; 
Bacaan II Rm. 10:8-13; 
Bacaan Injil Luk. 4:1-13. 

Saudara Terkasih,

Mengawali empat puluh hari masa tobat, kita diingatkan untuk mengisi masa pertobatan ini secara dewasa dan penuh pengharapan. Dalam Bacaan Injil Hari Rabu Abu lalu, Yesus mengajarkan bagaimana hendaknya kita melakukan tindakan pertobatan. Pertobatan hendaknya diisi dengan tiga hal mendasar yang disebut sebagai kewajiban beragama, yaitu bersedekah, berdoa dan dan berpuasa [Lih. Matius 6:1-6.16-18]. Menariknya, Yesus mengawali pengajaran-Nya dengan mengingatkan para murid untuk tidak “show-off” dalam kaitannya dengan pertobatan.

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.”

Mat 6:1

Pertama-tama, pertobatan itu hendaknya bersifat personal. Pertama-tama, Allah sendirilah yang bertindak untuk mengampuni, mengasihi dan menyelamatkan umat-Nya. Yesus sendiri bersabda, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” [Luk 6:36]. Karena itu, pertobatan personal hendaknya merupakan penyesalan diri, niat untuk kembali kepada Bapa dan diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari. Secara ekstrem, Injil bahkan mengatakan, jika bersedekah, maka hendaknya tidak diketahui oleh tangan yang lain. Berdoa bukan di tempat umum agar dilihat orang. Apalagi berpuasa, “Basuhlah mukamu, minyakilah rambutmu”. Perintah Injil sangatlah jelas: Pertobatan itu personal.

Pertobatan itu spesial. Selain personal, masa pertobatan adalah masa yang khusus, karena kita secara special diberikan kesempatan untuk membangun kembali relasi yang intim dengan Tuhan. Tindakan amal, berdoa dan berpuasa yang kita lakukan hendaknya bertujuan untuk membangun intimacy with God [hubungan yang intim atau special dengan Tuhan] dan bukan untuk dilihat dan dipuji-puji orang lain.

Dalam Injil hari ini, tindakan Yesus menggambarkan bagaimana membangun intimacy with God. Karena tuntunan Roh Kudus, Yesus menyendiri untuk berdoa, berpantang dan berpuasa selama empat puluh hari. Untuk mengawali karya-Nya, Yesus menempatkan intimacy atau relasi yang sangat special dengan Allah sebagai dasar karya keselamatan-Nya. Karena intimacy itulah, Yesus menyapa Allah dengan “Abba, Bapa” [Mark 14:16]. Yohanes bahkan menyebut bahwa pengenalan Yesus akan Allah Bapa itu sangatlah sempurna: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” [Yoh 1:18].

Maka, di masa Tobat, hendaklah kita berusaha untuk senantiasa membangun intimacy with God [hubungan yang spesial dengan Tuhan] dengan cara pertobatan pribadi dalam berbagai hal. Mari kita senantiasa berusaha untuk tidak hanya memfokuskan diri kita pada jenis atau bentuk pantang dan puasa. Biarlah itu semua menjadi kesadaran [dan pengetahuan] pribadi kita masing-masing. Jika sedekah, pantang dan puasa serta doa kita menjadi konsumsi masyarakat umum, maka di saat itulah kita jatuh pada show-off praktek religius. Belajar dari apa yang dilakukan Yesus di padang gurun, tantangan dan godaan itu akan sirna jika kita memiliki intimacy with God. Pertobatan adalah waktu bagi kita untuk merenungkan kembali seberapa pantaskah kita menyebut Allah sebagai Bapa; sedalam apakah relasi kita dengan Tuhan.

Selamat menjalani masa pertobatan empat puluh hari.

Salam Misioner

RDHJ