Outward Appearance

Outward Appearance

Hari Minggu Biasa VIII [27 Februari 2022]
Bacaan I Sir. 27:4-7; 
Mzm. 92:2-3.13-14.15-16; 
Bacaan II 1Kor. 15:54-58; 
Bacaan Injil Luk. 6:39-45.

Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka:

“Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?

Luk 6:39

Saudara terkasih!

Pasti kita sering mendengar istilah “Don’t be shallow” [Janganlah menjadi dangkal] atau mungkin lebih familiar dengan “don’t judge the book by its cover”. Bebereapa idiom yang mengisyaratkan kita untuk tidak menilai seseuatu hal hanya dari tampak luarnya semata-mata. Mengapa hal tersebut perlu diingatkan? Tampilan luar adalah hal yang paling mudah untuk dilihat oleh mata kita; bahkan tampilan luar bisa saja menggambarkan jati diri seseorang. Namun hal itu bisa saja salah. Terlebih lagi, menghakimi orang lain karena tampilan luarnya menjadi suatu ciri khas manusia yang mengarah pada dosa. Sebaliknya, Allah justru melihat kedalaman hati manusia.

Pengajaran Yesus dalam Injil yang kita dengar diawali dengan seruan “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? [ay.39] dan diakhiri dengan perumpamaan tentang pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik pula [Ay 43-45].

Tentunya, “kebutaan” yang disebut Yesus tidak hanya diartikan secara harafiah, yaitu ketidakmampuan fisik manusia untuk melihat realitas dengan menggunakan matanya. “Kebutaan” yang dimaksudkan dalam Injil hari ini lebih pada “kebutaan spiritual”, yaitu ketidakmampuan atau ketidakmauan seseorang untuk menerima Injil Kabar Sukacita.

Lalu, siapakah mereka yang buta spiritual? Pertama-tama, ialah orang-orang yang tidak beriman pada Allah, yaitu manusia duniawi: “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” [1Kor 2:14]. Orang-orang yang menyembah berhala adalah mereka yang buta spiritual. Yesaya bernubuat: “Orang-orang yang membentuk patung, semuanya adalah kesia-siaan, dan barang-barang kesayangan mereka itu tidaklah memberi faedah. Penyembah-penyembah patung itu tidaklah melihat dan tidaklah mengetahui apa-apa; oleh karena itu mereka akan mendapat malu.” [Yes 44:9]. Yesus mengatakan dengan tegas orang-orang buta spiritual ini sebagai orang yang “bodoh dan lambat hati” [bdk Luk 24:25] yang tidak mau mendengarkan nubuat para Nabi. Para murid-Nya pun mengalami hal yang sama ketika mereka tidak mengerti akan nubuat sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus, “Akan tetapi mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu; arti perkataan itu tersembunyi bagi mereka dan mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan.” [Luk 18:34].

Buta spirtual mengarah pada dosa. Manusia yang mengalami kebutaan spiritual menjadikannya sulit merasakan kehadiran Tuhan. Baik dalam dirinya sendiri maupun di dalam diri sesamanya. Dampaknya, seseorang dengan mudah hanya meihat tampilan luar “outward appearance” seseorang. Manusia menjadi mudah untuk menghakimi seseorang hanya karena tampilan luarnya. Karena ia mengalami “kebutaan spiritual”.

Maka, untuk menghindari kebutaan spiritual, marilah kita berupaya membersihkan dan memurnikan diri kita, baik penampilan fisik, maupun hati kita. Karena Allah tidak melihat “cover” penampilan lahiriah, melainkan hati kita. “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” [Luk 16:15]. Jika kita menyadari bahwa Allah melihat hati kita, marilah kita juga senantiasa belajar untuk melihat hati sesama kita. Marilah kita belajar untuk tidak buta secara spiritual.

Salam Misioner

RDHJ