Para Saudara terkasih,
Dialog antara Yesus dan Pilatus yang kita dengar dalam Injil hari ini menekankan pentingnya hidup sesuatu Kehendak Tuhan dalam rangka menyiapkan diri kita akan kedatangan Tuhan Yesus yang keda kalinya. Pertanyaan Pilatus lahir dari pemikiran duniawi tentang suatu kerajaan: “Engkaukah Raja orang Yahudi?”. Raja – kerajaan dimengerti secara sederhana sebagai seorang penguasa yang bersifat sementara atas orang-orang dan wilayah tertentu. Karena itu seorang raja memiliki kuasa atas wilayah kerajaannya.
Pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ini, Saya ingin mengajak kita semua untuk memahami Kerajaan Allah yang diwartakan Kristus sendiri secara berbeda dari apa yang dimengerti oleh orang-orang Yahudi. Lalu, apa sih Kerajaan Allah itu? Jawaban Yesus atas pertanyaan-pertanyaan Pilatus, sekaligus menekankan ciri khas Kerajaan Allah.
Dengan berkata, “Kerajaan-Ku Bukan dari dunia ini” [Yoh 18:36], Yesus menegaskan bahwa Kerajaannya tidaklah bersifat duniawi. Paulus mengatakan: “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” [Rm 14:17].
Pertanyaan Pilatus “Jadi Engkau adalah raja?” ditanggapi Yesus dengan mewartakan kembali tujuan kedatangannya [kerarajaan-Nya] ke dunia ini, yaitu “untuk memberi kesaksian tentang kebenaran”. Mereka yang terikat akan Kerajaan Allah diharapkan untuk senantiasa berbuah melimpah [lih 1Tes 2:12]. Itulah tugas dan tanggung jawab kita sebagai pengikut Kristus. Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus ialah Kerajaan Damai [lih. Mat 5:9], penuh kasih dan pengampunan [lih. Mat 6:12; 18:21-35; Luk 17:3-4].
Kita bisa saja bertindak seperti Pilatus yang bertanya tentang kebenaran Yesus dan Kerajaan-Nya. Kita pun bisa berpikir dangkal seperti orang-orang Yahudi tentang aspek duniawi seorang raja dan kerajaannya. Namun, marilah kita berntanya dalam diri kita sendiri: “apakah saya sudah membiarkan Tuhan Yesus Kristus meraja dalam diri kita masing-masing?” Dengan demikian, kita belajar untuk menerima Tuhan sebagai Raja, bukan karena kuasa duniawi dan Kerajaan-Nya yang tidak terbatas pada wilayah tertentu.
“Ini aku Tuhan, sudilah menjadi Raja dalam hatiku!”
Salam Misioner