“Mencintai berarti SIAP KEHILANGAN”

“Mencintai berarti SIAP KEHILANGAN”

Hari Minggu Biasa XIII [A]


Saudara terkasih,
Rasanya aneh, jika seseorang diminta untuk mencintai, tetapi bukan untuk dirinya sendiri. Sepasang kekasih, akan saling mencintai dan menginginkan untuk di saat yang bersamaan pun “dicintai”. Dalam tingkatan lain, hubungan kekeluargaan pun, pada titik tertentu, membutuhkan apa yang disebut sebagai cinta yang bersyarat atau timbal balik. Walaupun para orang tua biasanya menunjukkan cinta yang terterbatas bagi anak-anaknya. Cinta membutuhkan feedback dari lain.

Pernahkah kita menyadari bahwa dalam kehidupan nyata, ternyata kita lebih sering ingin untuk dicintai daripada mencintai? Padahal setiap manusia diberikan karunia untuk pertama-tama mencintai, seperti Allah yang senantiasa mencintai dan mengasihi manusia tanpa batas. Kemampuan untuk mencintai itu dikalahkan dengan kebutuhan untuk lebih dicintai. Kita bahkan lebih suka menjadi objek daripada mengambil peran sebagai subjek yang mencintai.

Hari ini, Yesus menegaskan pentingnya menjadi subjek untuk mencintai. Namun dengan cara yang berbeda [kontradiktif, radikal, paradoks], Yesus menekankan bahwa mencintai berarti “siap kehilangan”. Tindakan mencintai yang dimaksud Yesus adalah mencintai Allah, bukan sekadar mencintai seseorang ataupun sesuatu hal duniawi.
Syarat utama untuk mencintai Allah adalah melepaskan keterikatan duniawi. Keterikatan duniawi itu bisa berupa keluarga, pekerjaan, harta benda, bahkan nyawa kita sendiri. Kemampuan dan kemauan untuk terbebas dari keterikatan terhadap hal-hal duniawi itu memampukan kita untuk mencintai Allah.

Maka, marilah kita senantiasa menyadari kemampuan untuk mencintai. Karena dengan mencintai, kita akan mampu mengalahkan kebutuhan untuk dicintai dan siap untuk kehilangan keterikatan duniawi.
… Hening Sejenak …