“JEJAK SAMAR MISIONER”

“JEJAK SAMAR MISIONER”

By: 
Maria Immaculata Gunarwati
Pensiunan Guru, 
Peserta Kursus Misiologi 2021-2022, 
Masih Aktif dalam Pastoral Gereja di usia 70n tahun. 
Paroki Trinitas, Cengkareng, Jak-Bar, KAJ

Warisan Iman

Saat masih kecil , sekitar 65 tahun lalu, saya sering diajak mengikuti Misa oleh orang tua saya. Sebagai anak kecil saya melihat bahwa Romo atau Imam itu seperti kisah orang suci yang sering diceritakan oleh ayah saya. Bayangan figur Santo Petrus sering tersamar dalam pakaian jubah Romo yang putih bersih, nuansa kesucian. Demikian pula di sekolah, saya takut mendekati Suster karena jubahnya yang putih mengingatkan saya pada orang suci. Takut tapi kagum kok ada orang yang mau hidup tanpa ganti-ganti baju seperti yang kami kenakan. Konsep surga dan neraka pun saya terima dari mereka semasa pelajaran persiapan komuni pertama. Akhirnya, saya menjadi rajin berdoa dan membaca kisah para orang suci yang bukunya dihiasi dengan ornamen para santo dan santa.

Menjelang remaja, saya mulai sadar bahwa para pastor, biarawan dan biarawati itu memilihi untuk tidak menikah. Mereka membaktikan hidupnya untuk melayani Gereja, mereka tinggal di komunitas tertentu. Hal ini diperjelas ketika adik dari ibu saya memutuskan untuk masuk biara untuk menjadi Suster Abdi Kristus. Kala itu, Saya bertanya: “Bulik, kenapa mau jadi suster dan tidak menikah?” Jawabnya: “Saya ingin membaktikan hidup hanya untuk Kerajaan Allah karena Tuhan sudah mengasihi kita dengan wafat di kayu salib!” Saya melongo agak tidak mudeng. Perlahan, saya mulai paham bahwa ada sesuatu yang harus dikerjakan untuk Gereja:  yaitu pewartaan kabar baik dalam tindakan nyata. 

Di sisi lain saya sempat memperhatikan bagaimana orang tua saya sangat memperhatikan hidup rohani anak-anaknya. Misa mingguan menjadi suatu hal yang tidak pernah saya lewatkan; bersikap baik kepada orang lain dan ciptaan lainnya. Hal ini ditunjukkan oleh sikap ibu saya yang sangat telaten merawat tanaman hiasnya, bahkan sering diajak ngobrol. Aneh tapi nyata, tumbuhan itu tumbuh sangat subur. Dan karena gaya hidup keluarga kami yang rukun dan bahagia, tetangga dan orang di sekitar kami sering bertandang ke rumah dan kadang berbincang dengan orangtua saya untuk meminta advis atas permasalahan mereka, meski mereka berbeda keyakinan dengan kami.

Menginjak bangku SMA dan mahasiswa, saya mulai aktif di organisasi gereja seperti Pemuda Katolik dan PMKRI setelah masuk perguruan tinggi. Hal ini memotivasi untuk membantu orang lain dengan segala kemampuan yang saya miliki. 

Menikah dan menjadi Kepala Sekolah SMA Negeri

Sampailah saya pada titik penting dalam hidup saya, hidup perkawinan. Calon suami bukanlah seorang Katolik. Seorang muslim yang berasal dari Bengkulu. Keyakinan saya ialah: “bahwa saya hanya akan menikah dengan orang yang seiman”. Cukup lama kami tidak berhubungan. Suatu ketika, dia datang lagi dan mengatakan bahwa dia memutuskan untuk mengikuti Kristus dan akan menerima Sakramen Baptis seminggu lagi. Singkat kata, kami menikah di Gereja Katolik dengan restu kedua orang tua kami, termasuk orang tuanya yang beragama Islam. Doa saya di hadapan Bunda Maria: “Jika Tuhan menghendaki, saya akan mempersembahkan putra pertama kami sebagai pastor. Karena Tuhan begitu baik kepada kami sekeluarga!”

Saya kemudian bekerja sebagai guru di SMA Negeri dan kemudian menjadi Kepala Sekolah. Namun, hal ini tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. Karena alasan agama, saya pernah ditolak dengan spanduk  bertuliskan: “Kami menolak kepala sekolah non-muslim”. Namu, hal itu tidak menyurutkan semangat saya untuk meneladani apa yang diajarkan dan dilakukan Yesus sendiri. Salah satu hal yang penting adalah dengan say no to corruptionwalaupun selalu ada kesempatan dan fasilitas ada di depan mata untuk melakukannya. 

Satu cobaan yang sangat menyedihkan adalah ketika suami tanpa sakit dipanggil Tuhan. Ada empat putra yang harus saya didik dan besarkan. Berada di lingkungan kerja yang multikultur tidaklah mudah untuk berdoa dan mempraktekan iman dan kepercayaan saya. Namun, arena kedekatan saya dengan teman-teman guru, mereka pun turut serta mendoakan keluarga saya yang ditimpa musibah. Menurut saya, “Rupanya kedekatan personal bisa mencairkan ritual doa yang kadang bisa meruncing jadi konflik”. Karena itu, hendaknya kita menjalin relasi personal dengan saudara-saudari kita yang lain yang tidak seiman dengan kita. 

Dengan selalu berpegang pada Tuhan, di tahuan 2000 saya terpilih menjadi Guru Teladan I untuk wilayah Jakarta Barat, Guru Teladan II untuk Wilayah DKI Jakarta.  Sembilan tahun kemudian [Th. 2009] Saya Kembali terpilih sebagai Kepala Sekolah Teladan I untuk wilayah Jakarta Pusat dan Kepala Sekolah Teladan II Wilayah DKI Jakarta. Di lain pihak, saya pun semakin yakin untuk berdoa dan melakukan tanda salib di lingkungan sekolah tanpa perasaan malu ataupun takut. Putra yang dijanjikan dalam doa saya kepada Bunda Maria pun akhirnya ditahbiskan menjadi seorang pastor yang setia pada panggilan imamatnya hingga akhir hayatnya [2005-2020]. 

Never ending mission

Setelah pensiun, saya tetap ingin berkarya di ladang Tuhan. Saya memutuskan untuk menjadi prodiakon selama enam tahun, menjadi Ketua Seksi pendidikan di Paroki selama tujuh tahun dan hingga sekarang, saya masih membantu sebagai sekretaris di Seksi PSE Paroki Trinitas, Cengkareng, Jakarta Barat, DKI Jakarta, dengan berbagai kegiatan sosial yang mengharuskan saya untuk berinteraksi dengan berbagai kalangan termasuk para pengungsi UNHCR yang hidupnya rumit karena lari dari negara mereka yang berantakan. 

Saya melakukan semua dengan sukacita karena Tuhan sudah membayar lunas dengan darah-Nya di Golgota. Saya memutuskan untuk mengikuti kursus Misiologi untuk menambah wawasan iman. Banyak hal yang saya temukan sebagai jawaban atas pertanyaan dalam hidup saya: “sudahkah saya punya semangat misioner?” Saya berupaya untuk mewujudkan semangat misioner itu dalam kehidupan sehari-hari dan tentunya, saya berharap bahwa saya mungkin sudah melakukannya walaupun tanpa direncanakan. Hal ini sejalan denga napa yang dikatakan Paus Fransiskus dalam pesan misionernya di Hari Minggu Misi Sedunia tahun 2021: “Bahkan mereka yang paling lemah, terbatas dan bermasalah dapat menjadi misionaris dengan cara mereka sendiri, karena kebaikan selalu dapat dibagikan, kendati ada banyak keterbatasan yang mengiringi” [Christus Vivit, 239]

Jakarta, 28 Oktober 2021

Ed. RD. Habel Jadera

2 Comments

  1. Luar biasa. Pengabdian sejati seorang Katolik.
    “Rupanya kedekatan personal bisa mencairkan ritual doa yang kadang bisa meruncing jadi konflik”
    Benar sekali, Yesus sendiri yg mengajarkan itu, agama untuk kemanusiaan, bukan melulu ritual.

    Bobby
  2. Hebaat Wati. Semangat yang tidak pernah luntur. Kemampuan leadership dan selalu berprestasi sudah tampak sejak Sekolah Dasar. Semoga Tuhan melindungi dan melimpahkan rahmatNYA pada Wati dan keluarga.

    Murni

Comments are closed.