Dialog misioner dengan Budaya Lokal

Dialog misioner dengan Budaya Lokal

Peringatan fakultatif 
St. Yohanes XXIII, Paus
Gal. 4:31b,5:6; 
Mzm. 119:41,43,44,45,47,48; 
Luk. 11:37-41. 
Warna Liturgi Hijau

Saudara Terkasih,

Injil hari ini menguatkan kita agar mampu menghadapi berbagai tantangan dalam mewartakan Kabar Sukacita: Orang Farisi yang berpegang teguh pada tradisi membutakan mata hati serta menghalangin mereka akan karya keselamatan yang hadir dalam perngajaran dan karya Yesus di antara mereka. Yesus menghormati undangan makan orang Farisi: hadir dan makan bersama. Dalam hal ini Yesus ingin membangun suatu hubungan yang berbeda. Kita tahu bahwa Injil mencatat hubungan Yesus dan orang Farisi tidaklah berjalan dengan baik. Seorang Farisi mengejek Yesus kedika ia mengampuni seorang perempuan berdosa yang membasuh kaki-Nya dengan minya [Luk 7:36-50]; Yesus mengecam berbagai formalitas hukum dan kemunafikan orang Farisi [Luk 14:1-6; Mat 22:37; Luk 20:45-47].

Salah satu poin instruksi misioner para misionaris [Instruksi Misi 1659] menekankan pentingnya menghargai budaya lokal. Dalam instruksi tersebut, “para misionaris dilarang untuk menggunakan segala instrumen untuk mengajak penduduk lokal meninggal adat kebiasaan mereka kecuali jika secara terbuka bertentangan dengan nilai-nilai agama dan moral”. Paus Benediktus XV kemudian mewajibkan semua misionaris untuk mempelajari bahasa setempat untuk memudahkan seorang misionaris berkomunikasi.

Budaya, adat dan kebiasaan hendaknya tidak menjadi penghalang bagi karya pewartaan Injil pendekatan kita didasarkan pada dialog pertobatan dengan Tuhan Yesus Kristus. Orang Farisi dalam Injil ini tidak menunjukkan adanya dialog pertobatan dengan Kristus. Budaya setempat dijadikan alat untuk menolak bahkan menyerang Yesus yang dengan sengaja berlaku kontradiktif terhadap budaya yang dijadikan alat. Budaya yang baik dan penuh makna akhirnya menutup pintu keselamatan karena kepentingan pribadi seorang Farisi.

Santo Yohanes XXIII, 60 tahun yang lalu [Pembukaan Konsili 11 Oktober 1962], mengundang Gereja universal dalam sebuah Konsili Ekumenis yang membawa perubahan yang luar biasa pula terhadap cara pandang Gereja terhadap dunia luar. Dengan slogan “aggiornamento” [pembaharuan], Gereja senantiasa terus-menerus berdialog dengan dunia dan budaya lain sebagai bagian dari karya pewartaan Kabar Sukacita. Marilah, dengan semangat Konsili Vatikan II, kita senantiasa menjadi misionaris di antara berbagai budaya yang berbeda, berdialog dan mengarahkan pada pengampunan sejati di dalam Kristus.

Santo Yohanes XXIII, doakanlah kami!

Salam Misioner

RDHJ