No to hypocrisy!

No to hypocrisy!

“Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, 

tetapi janda itu memberi dari kekurangannya” 

Para Saudara terkasih, 

Dalam pengajaran-Nya hari ini, dengan tegas Yesus menolak kemunafikan hidup yang diperlihatkan oleh Ahli-ahli Taurat. Di saat yang bersamaan, Ia mengambil contoh seorang janda miskin sebagai pembanding. Ketulusan dan kesedernaan menjadi pegangan hidupnya: bukan untuk dilihat, dipuji dan dielu-elukan banyak orang. 

Teguran Yesus: “Waspadalah terhadap ahli-ahli Taurat!”, juga dapat menjadi teguran bagi kita semua. Kecenderungan untuk menampilkan hal yang berbeda dengan pribadi kita yang sesungguhnya. Dalam hal beriman, Kitab Suci mengutuk sikap kemunafikan dalam beriman. Iman kepada Tuhan tidak ditunjukkan secara nyata dalam kehidupan dan perilaku manusia. 

Dalam Perjanjian Lama, kemunafikan ini digambarkan dengan “hati yang licik” seperti yang dikatakan Nabi Yeremia: “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membantu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” [Yer 17:9]. Hati yang licik itu akan “menanggung akibat kesalahannya”  [lih. Hos 10:2]. Dari hati yang licik itu, lahir hal-hal yang buruk seperti digambarkan dalam Injil Markus [Lih. Mrk 7:21-22]. 

Untuk itu, kita dapat menghindari beberapa hal yang  membuka peluang untuk hidup dalam topeng kemunafikan. Pertama, ketidaktulusan. Praktik doa yang mereka lakukan bukan semata-mata karena iman mereka kepada Tuhan, melainkan upaya untuk dilihat orang lain dan memperoleh pujian [lih. Mat 6:16].  Kedua. disintegritas: ketidak-sesuaian antara ajaran dan tindakan mereka. Penginjil Mateus mengutip apa yang dinubuatkan Nabi Yesaya: “Bangsa ini memuliakan aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. …” [Mat 15:7-9]. Ketiga, menghakimi orang lain. Orang yang hidup dalam kemunafikan cenderung untuk selalu menghakimi orang lain, selalu mencari kesalahan orang lain, karena bagi mereka, lebih mudah mengeluarkan  “selumbar dari mata saudaramu, daipada balok di mata mereka sendiri” [lih. Mat 7:5]. 

Yesus menempatkan seorang janda miskin sebagai pembanding para kaum munafik. Ketulusan dan kesederhanaannya menjadikan ia tampil apa adanya: terutama ketika hadir di mata Tuhan. Ia memberi dari kekuranganya, bukan dari kelebihannya, dan demikian ia pun tidak menghakimi dan tidak mencari pujian. 

Marilah kita berusaha untuk hidup tulus dan jujur di mata Tuhan seperti seorang janda miskin tersebut, berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam kehidupan kita kepada Tuhan.

Salam Misioner