Doa: Lepas dari Keterikatan Personal

Doa: Lepas dari Keterikatan Personal

Hari Minggu Paskah VII [A]

Saudara terkasih, 

Pernahkah kita menyadari bahwa doa-doa kita itu terlalu egosentris? Tujuannya ialah untuk kepentingan diri kita sendiri? Ataukah hanya berisi tentang permohonan-permohonan pribadi kita sendiri? Atau bahkan doa dijadikan sebagai media untuk ‘memaksa’ Tuhan untuk menjawab berbagai kebutuhan kita dengan segera? Maka, tak jarang, dalam praktiknya seorang kristiani lebih sering menempatkan dirinya sebagai pusat dalam doa pribadi tersebut. Jika demikian, apakah doa kita itu sudah tepat? 

         Bagian akhir Perjamuan Tuhan dalam Injil hari ini menggambarkan Yesus yang berdoa kepada Bapa bagi keselamatan dunia (ay. 1-5)dan bagi para murid-Nya (ay. 6-11). Yesus memuliakan Allah (ay. 4) dan menginginkan agar manusia memperoleh keselamatan dengan menerima diri-Nya sebagai Pewahyuan Allah. Di samping itu, Yesus juga mendoakan para rasul dalam dan karya misi mereka (ay. 9) di dalam dunia. Mereka telah dipilih dari dunia untuk menguduskan dunia lewat pewartaan dan misi. Namun, jika kita bersatu dengan Allah, maka doa Yesus bagi keselamatan dunia dan karya misi menjadi nyata. 

         Berdoa, bukan sekadar mengungkapkan permohonan pribadi. Berdoa berarti berani lepas dari diri sendiri, menjadikan Tuhan sebagai pusat, dan berkomunikasi dengan-Nya. Dengan demikian, dengan berdoa, kita membiarkan diri kita dituntun untuk melakukan segala kehendak Allah. Tinggal bersama dalam kerahiman Tuhan. Doa bukan sekadar duduk, diam mengikuti ibadat pada waktu tertentu, setelah itu selesai (doa formal). Doa merupakan suatu perilaku akal budi kita. Dengan demikian, Berdoa tidak terbatas pada ruang dan waktu, berdoa dapat menjadi seluruh aktivitas kita sepanjang hari. Karena Allah senantiasa menyapa kita, maka hendaknya kita pun siap sedia menjawab sapaan Allah itu dalam doa. 

         Lebih dari itu, Jean Daniélou mengatakan, “Misi adalah perluasan dari Doa”. Makan dengan berdoa yang menempatkan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus sebagai pusat berarti kita telah mengambil bagian dalam karya misi Allah. 

 Tuhan Memberkati!

… Hening Sejenak …