Hari Minggu Biasa XIV [A]
Saudara terkasih,
Dalam hidup sehari-hari, kata ‘beban’ mungkin selalu bermakna negatif. Beban hidup, beban kendaraan, beban pajak, dan masih banyak lagi kita menyematkan kata tersebut untuk menggambarkan sesuatu yang berat untuk dilakukan atau untuk dipenuhi. Beban itu, dalam Injil hari ini digambarkan sebagai sebuah kuk.
DalamPerjanjian Lama, Kuk adalah sebuah alat dari kayu yang dipasang pada leher binatang penarik barang. tidak terbatas pada binatang, kuk juga biasa dipasangkan pada manusia, sebagai tanda perbudakan dan orang yang dipenjara [Bil 19:2; Im 26:13; Yer 27-28]. Dengan dipasangnya kuk pada leher seseorang atau sekawanan binatang, sang majikan atau tuan akan dengan mudah dapat menarik atau memberhentikannya. Ada tindakan kontrol yang sungguh besar.
Yesus, secara kontras, ingin menawarkan sesuatu yang berbeda. Kuk yang ringan, lemah lembut dan penuh kasih serta sesuai dengan kemampuan kita, umat manusia. Kuk yang Tuhan berikan bukan untuk menghilangkan kebebebasan kita, namun untuk semakin menyadari betapa Tuhan mencintai manusia.
Syaratnya ialah mengikuti Sabda Tuhan “Marilah Marilah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” Tuhan ingin agar kita senantiasa kembali kepada-Nya. Jika kita senantiasa menaruh harapan pada Tuhan dan menjadikan-Nya sebagai sumber kekuatan kita maka niscaya apa apa yang Tuhan sampaikan menjadi nyata dalam kehidupan kita masing-masing.
“Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil”.
Bagi orang-orang kecil itulah, Tuhan memasang kuk yang ringan dan lemah lembut.
… Hening Sejenak ..