Waktunya Re-INSTALL Hati Manusia

Waktunya Re-INSTALL Hati Manusia

Kalender Liturgi 18 Okt 2020
Minggu Pekan Biasa XXIX
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: Yes 45:1.4-6
Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1.3-4.7-8.9-10ac
Bacaan II: 1Tes 1:1-5b
Bait Pengantar Injil: Flp 2:15d.16a
Bacaan Injil: Mat 22:15-21

Para Saudara terkasih, 

Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus menyebut orang-orang yang sengaja mencobainya [menguji] dengan sebutan orang-orang munafik. Kata munafik dalam Injil sinoptik selalu merujuk pada orang-orang yang tidak memiliki kesesuaian antara kata-kata dan perbuatan mereka. Mereka yang selalu ingin terlihat sempurna di depan publik dengan [lih. Mat 6:2,16]. Orang munafik selalu mencari-cari kesalahan orang lain dengan tidak melihat kesalahan sendiri [Mat 7:5]. 

Tidak hanya itu, Yesus juga menegur dengan keras orang-orang munafik “Celakalah kamu…” karena menutup pintu Kerajaan Allah bagi orang yang mau bertobat {mat 23:13]. Yesus menggambarkan orang-orang munafik itu sebagai orang yang hanya memperhatikan luarannya saja, tanpa peduli dengan kebersihan dan metulusan hati [Mat 23:25,27]. 

Kemunafikan orang-orang Farisi dan ahli Taurat tidak hanya berhenti pada perkataan – perbuatan, ajaran dan sikap, melainkan juga di dalam hati dan pikiran seseorang. Katekismus menyebut bahwa akar semua dosa adalah terdapat di dalam hati manusia [KGK 1873]. Dalam Injil hari itu, dosa-kemunafikan itu dapat dilihat dalam “Bolehkah membayar pajak kepada Kaisar atau tidak” [ay. 17]. Sebuah pertanyaan yang tidak berakar pada ketidak-tahuan, kejujuran dan ketulusan hati manusia melainkan prasangka dan jebakan pribadi Yesus. 

Dosa adalah tindakan melawan Hukum Ilahi. Dan hukum ilahi yang ingin Yesus wartakan adalah “berikanlah kepada Allah, apa yang menjadi milik Allah” [ay. 21]. Lalu, apakah tindakan Yesus itu bertujuan hanya untuk  mencari aman? Agar tidak terlihat bertentangan dengan hukum yang berlaku? Jawabannya jelas TIDAK. Yesus ingin masuk pada kedalaman hati manusia, bukan hanya sebagai akar dari segala dosa, namun tempat Allah bersemayam di dalam setiap individu. 

Kemunafikan muncul karena manusia lebih memilih menggunakan hatinya sebagai akar dari segala dosa dan bukan menyadari hati sebagai tempat Allah bersemayam dalam dirinya. Karena itu, Yesus ingin agar kita sungguh-sungguh menyadari kehadiran Allah dalam diri hati kita masing-masing. Pertobatan bukan hanya datang dari pikiran dan perbuataan sesaat saja, melainkan harus berasal dari hati seseorang.

Saudara terkasih,

Kita pun bisa menjadi seperti orang-orang munafik, yang meniadakan Allah dalam hati kita, namun kesempatan pertobatan menjadikan kita me-remove, reset, reboot kemudian menginstall ulang hati kita dengan software yang baru, yaitu Allah yang hidup dalam hati kita. Dan dengan penuh sukcaita pergi dan mewartakan kasih Allah kepada semua orang yang kita jumpai. 

Salam Misioner

Tuhan Memberkati