Dituntun Roh Kudus

Dituntun Roh Kudus

Hari Minggu I - Masa TOBAT
Kej. 2:7-9; 3:1-7; 
Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 
Rm. 5:12-19 (panjang) atau Rm. 5:12,17-19 (singkat); 
Mat. 4:1-11. 
BcO Ul. 6:4-25
Warna Liturgi Ungu   

Saudara terkasih,

Sejak hari rabu abu, kita telah memasuki masa tobat empat puluh hari. Sebuah peristiwa perjalanan spiritual menuju sengsara, wafar dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Masa ini diawali dengan seruan pertobatan: “Bertobatlah dan percayalah pada Injil” seraya menandakan diri kita dengan abu sebagai tanda kefanaan dan karenanya membutuhkan pertobatan dan pengampunan dari Tuhan. Hal ini semakin mengingatkan kita akan makta masa tobat 40 hari ini. Santo Leo Agung menegaskan bahwa sebagai spiritualitas pantang dan puasa pertobatan 40 hari bukan hanya terletak pada pantang dan puasa daging atau makanan tertentu, melainkan pertobatan dari dosa-dosa.

Sehingga, puasa … dapat dipenuhi, tidak hanya dengan berpantang makanan, tetapi terutama dengan meninggalkan dosa.

Santo Leo Agung

Agar kita mampu melakukan pertobatan yang mendalam, Bacaan Injil hari Minggu I dalam masa tobat ini mengingatkan kita agar lebih terbuka pada tuntunan Roh Kudus. terkadang kita terlalu menyibukkan diri tentang konsep puasa dan pantang seperti apa yang harus kita lakukan namun lupa menjalankan perotobatan hati yang mendalam. Yesus sendiri, sebelum menjalankan tugas dan karya-Nya, Ia “dituntun” oleh Roh Kudus ke padang gurun. Pantang dan puasa bukan kesempatan untuk “show off” atau pamer kemampuan spiritual kita, tetap pertama-tama membuka diri pada karya Roh Kudus. Yesus tidak ingin memamerkan kemampuannya berpuasa 40 hari, tapi menunjukkan relasi Tritunggal yang mendalam – Bapa, Putera dan Roh Kudus. Karena itu Ia membiarkan dirinya dituntun untuk dicobai di padang gurun: “Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis” [Mat 4:1]

Roh Kudus berperan sebagai penolong bagi kita dalam melawan kuasa-kuasa “Iblis [Setan]”. Dalam Perjanjian Lama, kata iblis berasal dari kata Ibrani [שָׂטָן – Satan] yang berarti “melawan sebagai musuh atau lawan” namun juga dapat berarti kekuatan-kekuatan supranatural [lih. Mzm 38:20, Bil 22:2232Ayub 1:678Zak 3:11 Taw 21:1). Sedangkan dalam Perjanjian Baru, kata Setan lebih diartikan sebagai iblis [diabolos]. Maka, Setan atau iblis mengambil posisi yang jelas sebagai musuh atau lawan Allah. Karena itu, ia akan selalu memberikan perlawanan dan bahkan menggoda semua manusia untuk berpaling dan melawan Allah. Terutama di masa pertobatan – pantang dan puasa – selama 40 hari ini, karya Setan/Iblis akan semakin nyata dalam menghalangi manusia untuk kembali bersatu dengan Tuhan. Hal itu ditunjukkan dengan godaan dan cobaan yang sangat menggiurkan yang berkaitan dengan harta duniawi, kepuasan jasmani dan kekuasaan yang instan.

Yesus menunjukkan betapa pentingnya mengikuti tuntunan Roh Kudus dalam menjalani masa pertobatan ini. Paus Fransiskus sendiri mengatakan dalam pesan masa quaresima [masa tobat 40 hari] agar kita senantiasa berjuang dan berperang melawan kuasa-kuasa Iblis di dunia ini. Maka, marilah kita senantiasa mengingatkan diri kita untuk berdoa seperti yang diajarkan Yesus sendiri dalam doa Bapa Kami: “… dan janganlah masukan kami ke dalam pencobaan tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.” Doa ini dapat diwujudkan dalam masa tobat ini jika kita senantiasa membiarkan diri kita dituntun dan dipimpin oleh Roh Kudus.

Jika tidak, maka kita membiarkan diri kita sendiri masuk dalam pencobaan yang datangnya dari Setan [Iblis].

Salam Misioner