Doa dan Dialog: Suatu GERAKAN Misi Masa KINI

Doa dan Dialog: Suatu GERAKAN Misi Masa KINI

Hari Minggu Biasa VI  
 Bacaan 1 : Im 13:1-2.44-46
 Mazmur : Mzm 32:1-2.5.11
 Bacaan 2 : 1Kor 10:31-11:1
 Injil : Mrk 1:40-45

Para Saudara terkasih, 

Kisah seorang kusta yang berdialog dengan Yesus menjadi gambaran jelas tentang tugas perutusan kita dalam mewartkan Kabar Sukacita. Pertama-tama, Yesus tidak memandang rendah posisi orang kusta tersebut: mengingat di masa itu, adalah wajar jika seorang kusta dikucilkan dari masyarakat: dimarjinalkan, dibuang karena memang dianggap najis.  Namun, Yesus menunjukkan sikap yang konsisten dengan apa yang Ia amanatkan kepada murid-murid-Nya: “…Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan”. [Mat 10:2] 

Dialog antara Yesus dan Orang kusta itu mengingatkan Saya akan perjumpaan bersejarah Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al-Ashar, Dr. Ahmed Al Tayeb  tahun 2019 silam yang menghasilkan suatu dokumen kenabian tentang misi pewartaan Kabar Sukacita bagi dunia: “Dokumen Abu Dhabi: DOKUMEN TENTANG PERSAUDARAN MANUSIA: UNTUK PERDAMAIAN DUNIA DAN HIDUP BERSAMA”. Dokumen ini menekankan pentingnya doa dan dialog dalam menciptakan kebaikan dan perdamaian universal. Keterbukaan dan keberanian dalam memandang orang lain sebagai saudara merupakan inti dari sebuah dialog. Ketulusan hati, bukan kemunafikan menjadi syarat utama dalam dialog persaudaraan sejati. Di samping itu, doa menjadi unsur tak terelakkan. Dalam doa, kita menyatukan semua niat baik dalam nama Tuhan dan memurnikannya. Paus Fransiskus menekankan pentingnya “doa dalam mengawali suatu pertemuan dialog antar-agama.” [Habel Jadera, Dokumen Abu Dhabi, Sebuah Refleksi Misiologis, MEKAR, 2020].

Sekali lagi, Yesus memberi contoh dialog yang sejati, dialog hati, dialog kehidupan yang tidak memberi ruang pada sekat, tembok, apalagi barrier. Dialog itu terbuka pada tugas perutusan, pewartaan kabar sukacita yang diawali dengan suatu doa dan ucapan syukur. perlu kita ingat, bahwa dialog dengan Tuhan adalah suatu bentuk doa lho… 

Pewartaan yang tidak diawalai dengan doa dan dialog dengan Tuhan cenderung jatuh pada kesombongan dan kebanggaan atas diri sendiri. Padahal, berkat pembaptisan, kita semua semua menjadi duta besar Kristus [the ambassador of Christ]. Maka anjuran Yesus untuk senantiasa memberitahukan kesembuhan dari penyakit kusta itu ialah untuk menghindari diri dari pewartaan-pewartaan yang tidak berdasarkan doa dan dialog dengan Tuhan. Atau bahkan menghambat karya pewartaan yang lebih besar kepada banyak orang: “Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota”.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjadikan doa dan dialog dengan Tuhan sebagai dasar karya Misi evangelisasi di tengah masyarakat. Karena dengan demikian, kita memberikan kesempatan kepada Tuhan untuk melakukan karya-karya-Nya yang lebih agung dan mulia bagi banyak orang. 

“Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, 

tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam, 

dan persembahkanlah untuk pentahiranmu 

persembahan yang diperintahkan oleh Musa, 

sebagai bukti bagi mereka.”

Salam MSIONER

Teks IBADAT SABDA HARI MINGGU

https://habeljadera.keuskupanbogor.org/wp-content/uploads/2021/02/Ibadat-Sabda-HM-BIasa-VI.pdf