DOKUMEN ABU DHABI: DOKUMEN TENTANG PERSAUDARAN MANUSIA:  UNTUK PERDAMAIAN DUNIA DAN HIDUP BERSAMA

DOKUMEN ABU DHABI: DOKUMEN TENTANG PERSAUDARAN MANUSIA: UNTUK PERDAMAIAN DUNIA DAN HIDUP BERSAMA

RD. Habel Jadera

“Sebuah Refleksi Misiologis” [Dipublikasi di Majalah Mekar Edisi 02 Tahun XXXVII Maret – April 2020]

Satu tahun yang lalu, dunia digemparkan dengan sebuah peristiwa bersejarah. Peristiwa yang melibatkan Gereja Katolik yang dan Dunia Islam. Dua unsur yang mendominasi kebudayaan dunia berabad-abad lamanya. Kunjungan Paus Fransiskus ke Uni Emirat Arab merupakan sebuah bukti nyata gerak pastoral Gereja yang ‘keluar’ seperti yang ditekankan dalam Seruan Apostolik, Evangelii Gaudium  “Gereja yang bergerak keluar itu merupakan sebuah komunitas murid-murid misioner yang berani mengambil langkah pertama, terlibat dan mendukung, yang menghasilkan buah dan bersukacita.” (bdk. EG 24) 

         Dalam pesan video terkait kedatangannya ke UEA, Paus Fransiskus bahkan dengan tegas menyampaikan kegembiraannya untuk mengunjungi Jazirah Arab yang dikatakannya sebagai “Negara yang berusaha menciptakan koeksistensi, persaudaraan insani dan tempat pertemuan antara berbagai peradaban dan kebudayaan, tempat perbedaan itu dihormati”. Ajarannya mengenai pertobatan misioner sungguh diwujudkannya lewat tindakan yang nyata. 

         Perjumpaan yang bersejarah ini melibatkan banyak pihak. Paus Fransiskus mewakili Negara Vatikan, yang secara khusus mewakili Gereja Katolik. Dan kehadirannya mengatas-namakan seluruh umat Kristiani pada umumnya. Di lain pihak, Dunia Islam diwakili oleh, Syeikh Mohammad bin Zayed bin Sultan Al Nahyan, Putera Mahkota Abu Dhabi yang telah mengundang Paus Fransiskus hadir dalam dialog bersejarah ini. Imam besar Al-Azhar, Dr. Ahmed Al Tayeb.

         Di samping itu, muncul juga berbagai tanggapan bernada pesimis akan kesaksian ini. Apakah ini merupakan suatu kemunduran? Keluar dari semangat konsili? Hanya inisiatif seorang Paus Fransiskus belaka? Kurang militansi, cenderung relatif terhadap paham keselamatan? Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah sebagian kecil dari pertanyaan yang muncul akan inisiatif yang baik ini. Belum lagi ada anggapan bahwa dokumen ini hanya menjadi dasar bagi satu pihak tertentu, sementara di pihak lain, terlihat kurang menggema. 

Baca Artikel lengkapnya di

https://habeljadera.keuskupanbogor.org/wp-content/uploads/2020/09/Mekar-April-2020.pdf