[Satu-Kudus-Katolik-Apostolik]
Hari Raya Pentakosta [A]
Saudara terkasih.
Setelah merayakan Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus dengan agung selama 40 hari, dan mengenang Kenaikan-Nya ke Surga, hari ini kita sampai pada puncak masa paskah itu sendiri: Pentakosta. Bacaan Injil menggambarkan bagaimana Perayaan Paskah adalah perayaan turunnya Roh Kudus. Bahkan dalam kisah penampakan-Nya bagi para murid, Yesus telah mengembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus” (Yoh 20:22). Paskah telah menjadi karunia Roh Kudus terbesar bagi manusia. Di lain pihak, Kisah Para Rasul menggambarkan aspek yang lebih luas dari Pentakosta. Turunnya Roh Kudus berdampak bagi persatuan bangsa-bangsa lewat bahasa yang satu yang dapat mereka mengerti. Itu semua merupakan “perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah’ [Kis 2:11].
Paus Emeritus Benediktus XVI menekankan bahwa peristiwa Pentakosta seperti yang digambarkan dalam bacaan pertama merupakan peristiwa lahirnya Gereja yang merupakan hasil karya Roh Kudus. Roh Kudus turun bukan untuk sembarangan orang, melainkan bagi suatu komunitas yang mendedikasikan diri mereka untuk berdoa bersama Bunda Maria dan Para Rasul. Peristiwa Pentakosta sekaligus menanamkan karakteristik Gereja: satu, kudus, katolik dan apostolik.
Gereja itu apostolik, karena jemaat perdana menghabiskan waktu mereka untuk menerima pengajaran [katekese] dari para rasul [Kis 2:42]. Gereja itu suci karena Roh Kudus yang turun atas jemaat yang berdoa dan senantiasa menyucikan diri dengan melakukan pertobatan itulah, “Kesucian itu tidak datang karena kuasa, melainkan karena pertobatan kepada Allah” [Paus Benediktus XVI]. Kesucian komunitas itu lahir dari ketekunan dalam doa dan sikap pasrah bagi Kehendak Allah. Gereja itu satudalam gambaran sebagai komunitas yang berdoa, mengalami suatu sikap “sehati dalam doa” [Kis 1:14]. Dan setelah Pentakosta, kumpulan orang percaya itu, “sehati dan sejiwa” [Kis 4:32]. Gereja itu katolik, digambarkan dalam peristiwa ketika komunitas itu dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa lain [Kis 2:4]. Hal tersebut mematahkan kesombongan manusia yang memecah belah dalam peristiwa Menara Babel. Roh Kudus memungkinkan “berbeda-beda namun tetap satu” dalam bahasa kasih yang dapat dipahami semua bangsa. Karena itu, sejak lahirnya dalam peristiwa pentakosta, Gereja itu katolik.
Jika kita sadari, katekese Masa Paskah sebenarnya telah menuntun kita untuk siap merayakan Pentakosta, di mana Allah Bapa, “dalam Sabdanya yang menjadi manusia, yang wafat untuk kita dan bangkit. Ia menyelubungi kita dengan berkat-berkat-Nya. Melalui sabda-Nya, Ia meletakkan di dalam hati kita anugerah di atas segala anugerah, yakni Roh Kudus.” [KGK 1082].
Tuhan Memberkati!
… Hening Sejenak …