Saudara terkasih,
Injil hari ini masih melanjutkan kisah perumpamaan Yesus tentang Kerajaan Allah. Pertanyaan para murid mengenai alasan Yesus selalu menyampaikan ajarannya melalui perumpamaan terjawab hari ini, yaitu agar genaplah apa yang telah dinubuatkan para nabi ‘Aku mau membuka mulutku untuk mewartakan perumpamaan’. [Mat 13:35].
Dan dalam perumpamaan itu, Yesus menggambarkan Kerajaan Surga bukan sebagai sesuatu yang wah, megah, hal-hal besar; namun, dengan hal-hal yang kecil dan sederhana. Surga digambarkan sebagai benih gandum, biji sesawi dan juga ragi. Walaupun kecil dan sederhana, hal-hal tersebut memiliki dampak yang luar biasa. Sesawi dikenal sebagai sebuah tanaman populer di Palestina yang dapat tumbuh mencapai ketinggian 3 – 4 meter. Biji sesawi pun diakui sebagai biji yang sangat kecil di antara benih yang lain ‘namun apabila tumbuh, sesawi itu akan lebih besar dari sayuran lain bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya’ [ay. 32].
Di zaman Yunani (dan mungkin juga di zaman sekarang), orang menggunakan ragi dalam proses pembuatan roti. Adonan tepung harus diragi untuk memperoleh hasil maksimal. Ragi memiliki potensi untuk mengubah unsur atau zat pokok. Dari tepung terigu menjadi roti. Ragi inilah yang digambarkan oleh Yesus sebagai Kerajaan Surga.
Kerajaan Surga dapat diartikan sebagai Kerajaan Allah, yang tidak menunjuk pada tempat/ruangan tertentu. Tetapi lebih menekankan pentingnya aspek Allah yang “meraja”.
Dalam hal ini, Yesus ingin menekankan bahwa membiarkan Allah meraja dalam dati kita adalah suatu tindakan menghadirkan surga dalam diri kita masing-masing. Kita akan mampu tumbuh dan berkembang di antara berbagai godaan iblis. Di lain pihak, kita pun dapat menjadi ragi di tengah masyarakat yang mendatangkan hal-hal positif. Allah yang meraja memampukan kita untuk terus-menerus mengubah diri: pertobatan, melakukan proses meragi.
Maka pertanyaan “sudahkah Allah meraja?” memperoleh jawabannya ketika kita telah memiliki iman sebesar biji sesawi untuk tumbuh dan berkembang di antara godaan-godaan dunia. Dan memiliki spirit meragi, yaitu memiliki kemampuan untuk mengubah diri terus menerus.