Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya

Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya

Hari Biasa
Gal. 3:22-29;
Mzm. 105:2-3,4-5,6-7; 
Luk. 11:27-28. 
Warna Liturgi Hijau

Saudara Terkasih,

Sukacita adalah salah satu ciri khas sorang murid misioner. Sukacita menjadi dasar karya pewartaan. Hal ini telah dimulai sejak para rasul menyadari bahwa Yesus sungguh bangkit dari antara orang mati. Petrus dan Yohanes bersaksi: Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar [Kis 4:20]. Sukacita bahwa Yesus yang disalibkan, telah bangkit dan hidup menjadi dasar bagi para rasul untuk bersaksi atas iman akan Kristus, Guru dan Tuhan.

Hari ini kita mendengarkan sebuah percakapan antara seorang guru dan para pengikutnya. Pernyataan “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau” [Luk 11:27], ditanggapi secara lebih mendalam oleh Yesus dengan menekankan dasar utama menjadi seorang murid yang siap diutus. Yesus menyadari bahwa iman para pengikutnya masih terbatas soal “untung/rugi” manusiawi; mencari keuntungan dari mengikuti Yesus, agar dapat memperoleh “tempat-tempat khusus” di dalam Kerajaan Allah. Lebih dari itu, Yesus menekankan bahwa: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” [Ay. 28]. Dengan jawaban itu, Yesus tidak hanya membataskan kasihnya pada orang-orang yang dekat dengan-nya secara kekeluargaan, Ia memberikan aspek yang luas tentang Kerajaan Allah.

Bagi Yesus, menjadi murid yang siap untuk diutus itulah yang membawa kebahagiaan. Bukan lagi soal hubungan kekeluargaan atau kekerabatan yang diutamakan, baginya, mendangarkan firman dan melakukannya menjadi sarat utama seorang dapat memperoleh kebahagiaan. Ada beberapa alasan mengapa menjadi murid Yesus itu sungguh berbahagia: pertama, kebahagiaan merupakan hasil dari ketaatan para murid untuk mendengarkan sabda Allah dan menjalankannya dalam kehidupan seheri-hari [bdk. luk 11:28]; kedua, sukacita merupakan buah dari kesetiaan para murid untuk menjalankan perintah-perintah Allah [Yoh 15:10-11]; ketiga, hasilnya, Yesus memberikan damai bagi para muridnya yang sedang ketakutan: [Yoh 14:27].

Sukacita, Damai dan Kebahagiaan menjadi ciri khas utama seorang murid yang diapanggil dan diutus. Murid yang diapanggil dan siap diutus itu akan senantiasa mendengarkan, memelihara dan menjalankan Sabda dan perintah Tuhan. Jawaban Yesus memberi makna baru tentang memperoleh kebahagiaan surgawi. Apakah kita sungguh bersukacita dalam Kristus? Paus Fransiskus menekankan bahwa Sukacita Injil [Evangelii Gaudium] merupakan dasar sukacita misioner. Sukacita itu dapat kita peroleh sebagai murid-murid-Nya jika kita sungguh pergi dan mewartakan Kristus yang hidup.

Salam Misioner

RDHJ