Hari Minggu Biasa XXIV Kel. 32:7-11,13-14; Mzm. 51:3-4,12-13,17,19; 1Tim. 1:12-17; Luk. 15:1-32
Para Saudara terkasih,
Dalam Injil Hari Minggu biasa XXIV yang kita dengar hari ini, Yesus menekankan identitas Allah Bapa yang berbelas kasih. Sifat Ilahi Allah yang mencintai manusia itu digambarkan dalam berbagai kesempatan ketika manusia meninggalkan-Nya: jatuh dalam dosa, keserakahan, iri hati. Manusia lebih mementingkan diri sendiri. Allah dengan penuh kasih, menunjukkan cinta yang tak pernah terbatas dengan mengambil inisiatif untuk merangkul kita orang berdosa: “Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia” [Luk 15:20].
Berawal dari kedengkian Orang Farisi dan Ahli Taurat terhadap para pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang biasanya datang dan mendengarkan Yesus [lih. Luk 15:1]. Mereka mulai nyinyir terhadap kemurahan hati Yesus: “Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat” [Luk 15:2]. Merespons kedengkian itu, Yesus justru mengisahkan tiga perumpamaan sekaligus: perumpamaan tentang domba yang hilang [Luk 15:4-7], dirham yang hilang [Luk 15:8-9] dan perumpamaan tentang anak yang hilang [Luk 15:11-24]. Dalam perumpamaan-perumpamaan itu, Allah yang berbelas kasih menunjukkan Kehendak-Nya untuk mencari dan menyelamatkan umat yang dikasihi-Nya.
Karakter Allah Maharahim atau Allah yang berbelas kasih itu ditunjukkan dalam proses: pergi, mencari, menemukan, dan bersukacita. Inisiatif Allah membawa pada sukacita pertobatan dan pengampunan. Paus Fransiskus dalam Angelus Hari Minggu 11 September di Piazza San Pietro menegaskan sikap Allah yang Maharahim ini sebagai tindakan Allah untuk menyelamatkan manusia dan tidak menginginkan satupun umatnya hilang:
[Paus Fransiskus, Angelus, 11 September 2022].
“Saudara-saudari, Tuhan itu seperti ini: Dia tidak “tenang” jika kita menyimpang dari-Nya, Dia berduka, Dia gemetar dalam batinnya; dan Dia berangkat untuk mencari kita, sampai Dia membawa kita kembali ke pelukannya” [Paus Fransiskus, Angelus, 11 September 2022].
Di lain pihak, sebagai orang berdosa, kita pun hendaknya memiliki inisiatif manusiawi untuk bertobat dalam menjawab ajakan pertobatan dari Yesus sendiri, “kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” [Mrk 1:15]. Inisiatif pertobatan itu ditunjukkan oleh anak bungsu yang serakah dalam Injil: “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa” [Luk 15:18].
Marilah kita membuka diri pada inisatif cinta kasih Allah dengan melakukan pertobatan dalam diri kita masing-masing. Karena dengan demikan “akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat.”
Salam Misioner